
Pada tahun 2025, pengelolaan aset negara mengalami perubahan signifikan dengan dibentuknya Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia. Sejak diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025, superholding ini telah menjadi pilar stabilitas bagi emiten pelat merah sekaligus motor penggerak investasi strategis nasional.
Salah satu fokus utama Danantara sepanjang tahun ini adalah pemulihan fundamental sejumlah emiten BUMN yang krusial. Salah satu aksi korporasi yang menarik perhatian adalah penyuntikan dana segar kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) senilai Rp23,7 triliun. Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, menyebutkan bahwa dukungan ini merupakan momen penting bagi GIAA. Aksi korporasi ini memperkuat struktur permodalan dan free float saham yang tetap terjaga di 8%. Jumlah saham beredar meningkat menjadi 407 miliar saham, dan modal dasar GIAA diperkuat menjadi Rp100 triliun.
Suntikan modal tersebut dialokasikan untuk penyehatan armada Citilink dan pemeliharaan pesawat GIAA guna meningkatkan kapasitas produksi. Selain itu, Danantara juga cepat bertindak untuk menyelamatkan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) melalui pinjaman pemegang saham senilai Rp4,93 triliun. Manajemen KRAS dalam keterbukaan informasi BEI menekankan bahwa dukungan ini sangat diperlukan untuk menjaga kelangsungan usaha di tengah proses restrukturisasi yang menantang. Dengan adanya dukungan pendanaan melalui Pinjaman Pemegang Saham, Perseroan akan memiliki likuiditas yang lebih kuat, sehingga mampu menjalankan kegiatan operasional secara optimal.
Memasuki 2026, Danantara telah menyiapkan peta jalan investasi yang lebih agresif dengan total nilai mencapai US$25,1 miliar atau setara Rp418,9 triliun untuk proyek hilirisasi mineral dan energi, termasuk pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery dan proyek Bioavtur Refinery di Cilacap. CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menjelaskan strategi investasi tahun depan dirancang untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia. Roadmap investasi disusun dengan pendekatan terukur, berorientasi pada penciptaan nilai lintas generasi. Mandat mereka jelas, yaitu menghadirkan imbal hasil sehat bagi negara sambil memastikan setiap investasi memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dan mendorong transformasi nasional.
Di sisi lain, Danantara Indonesia juga memperluas portofolionya ke sektor layanan melalui proyek Kampung Haji di Makkah yang melibatkan akuisisi hotel dan pengembangan menara akomodasi. Chief Investment Officer Danantara, Pandu Patria Sjahrir, menekankan bahwa setiap langkah investasi yang diambil harus melalui proses kurasi yang ketat. Menurut Pandu, fokus perseroan adalah memastikan setiap proyek tidak hanya layak secara finansial, tetapi juga mampu memberikan dampak yang luas. Setiap investasi harus sejalan dengan aspirasi pembangunan nasional, memiliki dampak sosial lingkungan signifikan, serta layak secara komersial.
IDX BUMN 20
Kehadiran Danantara Indonesia dinilai memberikan dampak positif bagi kepercayaan investor di pasar modal terhadap emiten pelat merah. Berdasarkan data BEI hingga Senin (29/12/2025), Indeks IDX BUMN 20 tumbuh 8,16% secara year-to-date (YtD). Capaian ini lebih solid dibandingkan LQ45 yang hanya tumbuh 3,07% YtD dan indeks IDX30 menguat 3,76% YtD. Namun, jika disandingkan dengan IHSG yang melesat hingga 22,10% pada periode yang sama, kinerja emiten pelat merah tampak kehilangan momentum.
Kesenjangan tersebut mengindikasikan bahwa reli pasar modal sepanjang tahun ini tidak terdistribusi secara merata, dengan beban berat masih terasa pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengungkapkan lesunya performa indeks BUMN disebabkan oleh bobotnya yang terlalu berat pada saham-saham berkapitalisasi besar bersifat defensif. Saat ini, saham-saham ini tidak lagi menjadi pemimpin reli pasar sepanjang tahun 2025.
“Itu bukan berarti BUMN ditinggalkan investor, melainkan pasar makin selektif dan tidak memberi premi hanya karena status BUMN, tetapi angka laba, ROE, dividen, dan kualitas aset jadi penentu utama,” ungkap Liza baru-baru ini. Memasuki tahun 2026, Liza melihat adanya peluang penguatan dari sisi biaya dana (cost of fund) yang lebih ramah serta valuasi saham BUMN yang saat ini sudah tergolong sebagai saham murah atau value stocks.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menambahkan bahwa pertumbuhan indeks BUMN 20 yang masih berada di level single digit dipengaruhi oleh bobot raksasa perbankan pelat merah. Hal ini lantaran performa big four bank sempat berada di bawah ekspektasi pasar. Kendati demikian, penguatan IDX BUMN 20 disebut banyak tertolong oleh sederet rangkaian aksi korporasi. Salah satunya adalah sentimen positif dari hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
“Perbaikan sentimen didorong oleh perombakan pengurus, baik di jajaran komisaris maupun direksi, seperti yang terjadi di BMRI dan BBRI. Perubahan kepemimpinan ini diharapkan mampu mendorong eksekusi strategi bisnis yang lebih efektif, disiplin belanja modal dan efisiensi,” ucap Nafan. Selain sektor perbankan, Nafan menyampaikan bahwa sejumlah emiten pelat merah nonbank justru memperlihatkan tren teknikal yang positif. Beberapa saham seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), PT Timah Tbk. (TINS), hingga PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dinilai memiliki prospek yang relatif kuat.
Adapun dinamika pasar modal tahun ini juga dipengaruhi oleh pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia pada Februari 2025. Nafan menyebutkan sentimen Danantara cukup memengaruhi prospek fundamental emiten negara. Terlebih, terdapat wacana pemerintah untuk memangkas jumlah BUMN supaya lebih ramping dan berdaya saing. “Jika dinamika Danantara berjalan konsisten, peluang perbaikan kinerja BUMN dan indeks terkait akan terbuka lebar,” pungkas Nafan.