Liburan hemat, penuh kebahagiaan: Keluarga Addina eksplor alam Sukabumi

Erlita Irmania
0

Liburan yang Berbeda, Tapi Penuh Makna

Liburan sering kali dianggap sebagai kesempatan untuk berjalan-jalan ke tempat yang jauh, menginap di hotel mewah, atau mengambil foto-foto estetik untuk media sosial. Dengan alasan untuk "healing" setelah rutinitas kerja dan sekolah, banyak orang rela menguras tabungan demi liburan yang dianggap "pantas". Namun, tak sedikit dari mereka pulang dengan perasaan pening—bukan karena lelah berjalan, melainkan karena dompet yang menipis dan utang yang mulai mengintip.

Namun, pengalaman itu tidak berlaku bagi keluarga Addina di Sukabumi. Mereka menunjukkan bahwa liburan yang menyenangkan tidak harus mahal, apalagi sampai menyisakan beban finansial. Bagi mereka, liburan adalah tentang kebersamaan, kedekatan dengan alam, dan hemat biaya tanpa mengurangi esensi kebahagiaan.

Kenalan dengan Keluarga Addina

Saya mengenal keluarga ini secara dekat. Kakak sepupu saya dan pasangannya adalah lulusan Pramuka UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kisah cinta mereka tumbuh dari kegiatan alam seperti berkemah, mendaki, dan api unggun. Tak heran jika nilai-nilai kepramukaan kini mereka terapkan kepada anak-anaknya. Keponakan-keponakan saya pun menjadi anak muda yang mandiri, tangguh, sederhana, dan penuh rasa syukur.

Prinsip hidup mereka adalah: "Anak-anak harus kenal alam, supaya mentalnya kuat dan hatinya lembut."

Liburan ke Alam, Bukan ke Mall

Saat libur tiba, keluarga Addina tidak berbondong-bondong ke mall atau taman bermain yang riuh. Mereka justru mengajak anak-anak menyusuri alam: hiking ringan, bermain air di sungai, mandi di curug, hingga berjalan kaki melewati jalur setapak di tengah hutan. Tanjakan terjal dan bebatuan licin bukan penghalang, melainkan tantangan yang dinikmati bersama.

Tadi pagi, kakak sepupu mengirimkan foto-foto keseruan mereka di Curug Cibeureum, kawasan wisata Salabintana, Sukabumi. Anak-anak tampak ceria, pakaian basah, wajah lelah tapi bahagia. Saya hanya bisa tersenyum—dan jujur, sedikit iri.

Awal liburan, kakak sepupu mengirim pesan mengundang saya datang ke Sukabumi karena sudah lama tidak bersilaturahmi. Sekalian memberitahukan rencana main ke alam mumpung liburan. Kebetulan keluarga Bandung juga ada yang pergi ke sana. Sayangnya, saya tidak bisa ikut karena jadwal pulang kampung. Akhirnya, saya ceritakan saja di sini pengalaman dan kesan saya tentang cara liburan keluarga kakak sepupu yang menurut saya cukup inspiratif.

Liburan Murah, Kenangan Mahal

"Sekitar empat kilometer jalan kaki dari rumah ke Curug Cibeureum," katanya saat saya tanya soal jarak. "Anak-anak kuat kok, sekalian latihan mental. Memang jalurnya menantang, tapi justru itu yang bikin mereka belajar."

Soal biaya, jawabannya membuat saya tersenyum. "Nggak terlalu berasa di keuangan bulanan. Karena dekat rumah, ongkosnya minim. Bekal juga bawa dari rumah—nasi timbel, lauk sederhana. Karena orang sini juga, jadi dapat harga tetangga," ujarnya sambil tertawa.

Inilah yang membuat konsep liburan mereka terasa sangat masuk akal. Tidak ada tiket mahal, tidak perlu penginapan, dan tidak ada biaya makan di restoran. Semua serba sederhana, namun kaya pengalaman. Inilah bentuk nyata hemat biaya liburan yang jarang disadari banyak orang.

Karena ada saudara dari Bandung yang ikut bergabung, liburan pun terasa semakin seru karena anak-anak bisa bermain bersama sepupu-sepupunya. Kebersamaan lintas keluarga ini menjadi bonus yang tak ternilai.

Tadabur Alam sebagai Gaya Hidup

Bagi keluarga Addina, tadabur alam bukan sekadar aktivitas liburan, melainkan gaya hidup. Hampir setiap masa libur mereka mengunjungi destinasi alam di sekitar Sukabumi: Curug Sawer, Situ Gunung, hingga sudut-sudut alam yang belum ramai wisatawan.

Keberuntungan memiliki tempat tinggal dekat dengan wisata alam menjadi anugerah yang mereka manfaatkan sebaik mungkin. Ditambah latar belakang Pramuka, alam bukan sesuatu yang asing atau menakutkan, melainkan ruang belajar yang luas dan jujur.

Melihat kisah mereka, saya belajar satu hal penting: liburan tidak harus jauh dan mahal untuk bermakna. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah niat, kebersamaan, dan keberanian untuk kembali ke alam.

Dan meski saya tidak ikut dalam perjalanan itu, kisah keluarga Addina tetap sampai kepada saya—dan kini, kepada pembaca—sebagai pengingat bahwa liburan bisa tetap "kenyang" tanpa harus menyisakan banyak utang.

Alam sebagai Sekolah Karakter Anak

Dari cerita kakak sepupu saya, saya menangkap satu hal penting: bagi keluarga Addina, liburan bukan sekadar jeda dari rutinitas, melainkan sarana pendidikan karakter yang nyata. Alam menjadi "ruang kelas" tempat anak-anak belajar banyak hal yang tak selalu mereka dapatkan di bangku sekolah.

Saat berjalan kaki sejauh beberapa kilometer menuju curug, anak-anak belajar tentang daya tahan dan kesabaran. Ketika harus menapaki jalan berbatu dan licin, mereka belajar kehati-hatian dan keberanian. Ketika bekal dibagi bersama, mereka belajar kesederhanaan dan rasa syukur.

"Biar capek dikit nggak apa-apa," kata kakak sepupu saya saat kami berbincang via telepon. "Yang penting mereka tahu rasanya berusaha, bukan semuanya instan."

Nilai-nilai kepramukaan yang dulu mereka jalani rupanya kini hidup kembali dalam pola asuh. Anak-anak tidak dimanjakan dengan fasilitas, tetapi dikuatkan dengan pengalaman. Tidak dibiasakan mengeluh, tetapi diajak berdialog dan memahami batas kemampuan diri.

Yang menarik, semua proses pembelajaran itu terjadi tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Justru karena liburan dilakukan secara sederhana dan dekat dengan alam, keluarga ini bisa menerapkan hemat biaya liburan sekaligus menanamkan nilai hidup yang penting bagi anak-anak.

Liburan yang Pulang Membawa Makna

Melihat cara keluarga Addina mengisi waktu libur, saya semakin yakin bahwa mahal atau murahnya liburan tidak menentukan kualitasnya. Yang membuat liburan berkesan adalah kehadiran orang tua, interaksi yang hangat, dan pengalaman yang membekas di ingatan anak.

Keberuntungan tinggal dekat dengan destinasi wisata alam memang tidak dimiliki semua orang. Namun semangat yang dibangun keluarga Addina—sederhana, sadar biaya, dekat dengan alam, dan penuh nilai—bisa ditiru siapa saja, di mana saja.

Meski saya tidak bisa ikut dalam perjalanan mereka kali ini, kisah ini cukup memberi pelajaran berharga. Bahwa liburan tak harus membuat dompet menjerit. Bahwa kebahagiaan anak tak selalu datang dari wahana mahal. Dan bahwa keluarga bisa pulang dari liburan dengan hati kenyang—tanpa meninggalkan utang yang memberatkan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default