Ikan Goreng Tertinggal di Banjir Pasar Lalang Kota Padang

Erlita Irmania
0
Ikan Goreng Tertinggal di Banjir Pasar Lalang Kota Padang

Pagi yang Berubah Menjadi Bencana

Pagi di Pasar Lalang, Kuranji, Kota Padang seharusnya sederhana. Api kompor menyala, minyak mulai mendesis, dan ikan goreng hampir matang untuk sarapan keluarga. Namun bagi Asnidar, Jumat (2/1/2026) pagi itu berhenti sebelum benar-benar dimulai.

Sekitar pukul 09.00 WIB, bunyi keras seperti batu jatuh terdengar dari arah belakang rumahnya di Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Suara itu bukan sekadar bunyi, ia menjadi isyarat bahwa sesuatu sedang bergerak, dan tidak akan bisa dihentikan. Tak lama kemudian, batu menghantam dinding belakang rumah. Disusul teriakan Melati, anaknya, ketika kayu besar datang menerjang dan membuat dinding itu jebol.

Air Sungai Batang Kuranji yang meluap menemukan jalannya sendiri: dapur Asnidar. Gorengan yang belum matang terpaksa ditinggalkan. Asnidar berlari dari dapur ke halaman, dari rutinitas ke kepanikan.

“Sedang masak, tiba-tiba bunyi batu. Air naik cepat. Anak saya teriak, mencoba menahan air pakai seng. Saat itulah dinding jebol,” tuturnya, mengingat pagi yang tak pernah ia bayangkan.

Rumah Tak Lagi Memberi Perlindungan

Air datang bukan sendiri. Batu, lumpur, dan tanah ikut masuk ke rumah yang selama ini menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi Asnidar dan keluarga. Lemari pakaian terseret, berhenti sebentar di dinding, lalu akhirnya hanyut. Di tengah arus yang makin membesar, Asnidar hanya bisa berucap lirih dalam hati. Rumah itu bukan sekadar bangunan—ia adalah hasil perjuangan hidup, dan satu-satunya tempat pulang.

“Bagaimana hidup kami lagi, Nak?” ucapnya dengan mata sembab. Tak ada rumah cadangan, tak ada rencana cadangan. Yang ada hanya ketakutan bahwa semuanya akan habis.

Harapan kecil muncul. Di hari yang sama, Jumat (2/1/2026) pukul 11:00 WIB, banjir di Pasar Lalang sempat surut dan membuat hati Asnidar tenang. Anggota keluarga pun dikerahkan untuk membersihkan rumah yang sempat menyisakan material dari banjir. Pembersihan tak bisa dilakukan secara cepat, sebab material yang terbawa oleh banjir cukup banyak. Tanah, kayu, batu bahkan lumpur tak enggan masuk ke rumah milik Asnidar yang sudah jebol sebelumnya.

Kurang lebih, semua anggota keluarga melakukan pembersihan selama tiga jam. Sedang asik membersihkan itulah, banjir susulan kembali datang. Tim SAR di lokasi ketika itu, langsung meminta Asnidar beserta keluarga ke tempat yang lebih tinggi. Tepatnya berada di depan rumah Asnidar, sebuah batang durian menjadi tempat pelarian sementara saat banjir susulan di Pasar Lalang.

Pingsan di Tengah Arus

Tidak lama setelah membersihkan rumah, air datang lagi, rumah kembali penuh. Tim SAR langsung mengevakuasi kami ke bawah batang durian di depan rumah, tempatnya cukup tinggi," sebut Asnidar sembari tersandar di kursi. Tak hanya lemari, barang-barang perabotan lainnya juga tak luput dari derasnya arus banjir di Pasar Lalang Jumat siang itu. Asnidar histeris dan menangis, warga langsung menahannya untuk tetap kuat dan tegar.

Tak sekedar memegang, warga ikut menguatkan hati Asnidar yang hancur melihat kondisi rumahnya. "Warga meminta saya bersabar dengan cobaan ini, bahkan mengatakan ada hikmahnya, saya menjawab, bagaimana sabar, sudah hanyut semuanya, sama apa anak saya sekolah, tidak ada baju satu helai pun selamat," ujarnya dengan hati yang masih hancur mengingat momen itu.

Pemandangan itu terlalu berat. Dengan mata kepalanya, Asnidar melihat langsung barang-barang hasil jerih payah ia dan suami hanyut seketika akibat banjir. Di tengah kepanikan itu, ia tak kuat lagi menahannya, badannya lemah dan perlahan tak sadarkan diri. "Saya sempat pingsan melihat rumah dan barang-barang hanyut, karena habis semuanya," ucap perempuan berumur 54 tahun itu.

Asnidar Bersama Keluarga Balik ke Rumah

Tak berlangsung lama, warga berhasil menyadarkan Asnidar dan terus menguatkan agar tabah menghadapi cobaan. Hingga akhirnya, ia pasrah dan memilih mengungsi Jumat sore ke tempat yang lebih aman dari banjir. Warga memapah Asnidar untuk menyeberangi arus banjir di samping rumah, membawa ke rumah kakaknya di bagian luar lokasi. Asnidar hanya menurut, mengikuti arahan, dan melepaskan pikiran dari rumah dan barangnya yang hanyut.

"Saya pasrah dan kemudian dibawa mengungsi ke rumah kakak di depan sana," pungkas ibu dengan empat anak itu sembari menunjuk ke bagian jalan yang jauh dari lokasi bencana.

Di tengah malam dengan banjir yang sudah mulai berangsur surut, Asnidar memutuskan untuk balik ke rumah. Keputusan itu ia ambil pasca hatinya merasa tak nyaman, dikarenakan anak laki-laki Asnidar masih berada di rumah. Atas dasar itu, pada Jumat malam sekira pukul 23:00 WIB, ia mencoba beranjak dari rumah kakaknya ke rumah milik Asnidar.

Trauma yang Tertinggal

Setibanya di rumah, datang suami kakak Asnidar untuk membantu mengalihkan air agar tak melewati rumah. Suami kakaknya itu berupaya mengalihkan air menggunakan karung yang diisi dengan batu. Beruntungnya berhasil dan air mulai mengecil saat masuk ke bagian rumah. Melihat itu, Asnidar langsung memutuskan untuk menetap dan tidur di rumah. Rumah itu terdapat dua tingkat, meski terbuat dari tembok dan triplek sebagai dinding di bagian dalamnya. Di tingkat ke dua itulah, Asnidar bersama keluarga berencana tidur hingga malam pun berganti jadi pagi.

"Sebelum tidur, datang orang mengantarkan nasi goreng, saya makan bersama keluarga, bahkan keringat ikut keluar," ucapnya sembari bersyukur atas bantuan makanan itu.

Banjir mulai menyusut menjelang tengah malam. Pagi berikutnya, Asnidar turun ke lantai bawah. Tubuh lelah, mata tak terpejam semalaman, tetapi ia kembali membersihkan rumah. Puluhan personel TNI datang membantu. Lumpur, batu, dan kayu dikeluarkan. Rumah perlahan bersih kembali, meski rasa aman belum ikut pulang. Setiap hujan kini membawa ketakutan baru.

Asnidar berharap pemerintah segera bertindak: memperkuat bantaran sungai, memasang bronjong, memastikan air tak lagi masuk ke rumah-rumah warga. Karena di dapur rumahnya, dinding yang jebol itu masih menyimpan sepiring ikan goreng dan tahu—masih rapi, tak tersentuh sejak pagi. Bagi Asnidar, sepiring gorengan itu bukan sekadar makanan yang tertinggal. Ia adalah penanda bagaimana hidup bisa berubah dalam sekejap. Saksi bisu tentang pagi yang terhenti, tentang seorang ibu yang meninggalkan dapur demi menyelamatkan keluarga, dan tentang harapan sederhana: suatu hari bisa kembali memasak dengan tenang, tanpa rasa takut akan banjir yang kembali datang.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default